A. Judul
Praktikum : Uji Kation Golongan II B
B. Tanggal
Praktikum : 25 Oktober 2011
C. Tujuan
Praktikum :
Siswa
dapat mengidentifikasi keberadaan kation - kation golongan II B, yaitu As, Sn
dan Sb dalam suatu sampel yang belum diketahui sesuai dengan jenis dan sifat masing-masing.
D. Dasar
Teori :
Analisa kualitatif mempunyai arti mendeteksi
keberadaan suatu unsur kimia dalam cuplikan yang tidak diketahui. Analisa
kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari
kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan. Dalam metode analisis
kualitatif kita menggunakan beberapa pereaksi diantaranya pereaksi golongan dan
pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan untuk mengetahui jenis anion /
kation suatu larutan. Metode dalam melakukan analisis kualitatif ini dilakukan
secara konvensional, yaitu memakai cara visual yang berdasarkan kelarutan.
Regensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi
kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium
sulfida, dan amonium karbonat.
Pengujian kelarutan dilakukan pertama-tama dengan
mengelompokkan ion-ion yang mempunyai kemiripan sifat. Pengelompokkan dilakukan
dalam bentuk pengendapan dimana penambahan pereaksi tertentu mampu mengendapkan
sekelompok ion-ion.
Cara ini menghasilkan 6 kelompok yang namanya
disesuaikan dengan pereaksi pengendap yang digunakan untuk mengendapkan
kelompok ion tersebut.
Kelompok ion-ion tersebut adalah: golongan klorida (I), golongan sulfide (II), golongan hidroksida (III), golongan sulfide (IV), golongan karbonat (V), dan golongan sisa (VI).
Kelompok ion-ion tersebut adalah: golongan klorida (I), golongan sulfide (II), golongan hidroksida (III), golongan sulfide (IV), golongan karbonat (V), dan golongan sisa (VI).
Golongan II disebut juga golongan
sulfide. Reagensia golongan ini adalah hydrogen sulfide (H2S) dengan
konsentrasi ion sulfide dikontrol dengan mengatur konsentrasi H+ (dalam suasana
asam). Reaksi dalam golongan ini menyebabkan endapan-endapan dengan berbagai
warna. Berikut ini adalah ion-ion golongan II, beserta warna endapan-endapan
yang ditmbulkan.
Kation-kation golongan kedua menurut
tradisi dibagi dua sub- golongan : sub-golongan tembaga dan sub-golongsn
arsenic. Dasar dari pembagian ini adalah kelarutan endapan sulfida dalam
ammonium polisulfida. Sementara sulfida dari sub-golongan tembaga tak larut
dalam reagensia ini, sulfida dari sub-grup arsenik melarut dengan membentuk
garam tio.
Sub-golongan arsenik terdiri dari ion
arsenik(III), arsenik(V), stibium(III), stibium(V), timah(II) dan timah(IV).
Dengan membentuk endapan arsenik(III) sulfida, As2S3
(kuning); arsenik(V) sulfida (kuning); stibium(III) sulfida, Sb2S5
(jingga); stibium(V) sulfida, Sb2S3 (jingga); timah(II)
sulfida, SnS (coklat); dan timah(IV) sulfda, SnS2 (kuning).
Ion-ion ini mempunyai sifat amfoter
yaitu oksidanya membentuk garam baik dengan asam maupun dengan basa. Jadi,
arsenik(III) oksida dapat dilarutkan dalam asam klorida (6M), dan terbentuk
kation arsenik(III). Disamping itu, arsenik(III) oksida larut dalam natrium
hidroksida (2M), pada mana terbentuk ion arsenit.
Melarutnya sulfida dalam ammonium
polisulfida dapat dianggap sebagai pembentukkan garam-tio dari asam-tio
anhidrat. Jadi, melarutnya arsenik(III) sulfida (asam tio anhidrat
mengakibatkan terbentuknya ion-ion ammonium dan tioarsenit (ammonium tioarsenit
adalah suatu garam-tio).
Semua sulfida dari sub-golongan
arsenik larut dalam ammonium sulfida (tak berwarna), kecuali timah(II) sulfida.
Untuk melarutkan yang terakhir ini, diperlukan ammonium pulisulfida, yang
bertindak sebagian sebagai zat pengoksid, sehingga terbentuk ion tiostanat.
Ion-ion arsenik(III), stibium(III),
dan timah(II), dapat dioksidasikan menjadi ion arsenik(V), stibium(V), dan
timah(IV). Di lain pihak, ketiga ion yang terakhir ini dapat direduksi oleh
zat-zat pereduksi yang sesuai. Besarnya potensial oksidasi-reduksi dari sistem
arsenik(V)-arsenik(III), dan stibium(V)-stibium(III), bergantung pada pH yang
sesuai untuk reaksi tersebut.
E. Alat
dan Bahan :
F. Prosedur
dan Pengamatan
Sampel
:
-
Larutan berwarna putih
-
Ada endapan putih
-
Cair
-
Tidak berbau
Prosedur
|
Pengamatan
|
Ø Sampel ditambahkan HCl.
Ø Sentrifuge.
|
Ø Larutan
menjadi tidak berwarna, endapan putih jadi berada diatas.
Ø Larutan
tetap tidak berwarna, tetapi endapan putih jadi berada dibawah.
|
Ø Diasamkan dengan HCl 6N.
Ø Tambahkan setetes H2O2 10%.
Ø Didihkan 1 menit agar H2O2
habis.
Ø Tambahkan setetes air I2, kocok.
Ø Periksa terhadap metil violet (warna kuning).
Ø Alirkan gas H2S beberapa lama.
Ø Sentrifuge.
Ø Tambahkan kembali metil violet untuk mengecek
apakah larutan sudah berwarna hijau kebiruan, apabila sudah aliri dengan gas
H2S dan apabila belum tambahkan NH4OH 6N sampai warna
indikator tepat menjadi hijua biru.
Ø Alirkan gas H2S sampai endapan tidak
terbentuk lagi.
Ø Sentrifuge
|
Ø Tidak
terjadi reaksi.
Ø Tidak
terjadi reaksi.
Ø Terdapat
uap air disekitar dinding tabung.
Ø Tidak
terjadi reaksi.
Ø Ditambahkan
2 tetes metil violet warna larutan menjadi kuning bening.
Ø Larutan
menjadi berwarna orange dan terdapat endapan berwarna orange.
Ø Sentrat
terpisah dari endapannya.
Ø Saat
metil violet diteteskan muncul warna hijau kebiruan.
Ø Warna
larutan tetap dan endapan menjadi lebih banyak.
Ø Endapan
dan sentrat terpisah.
|
v Pisahkan sentrat dengan endapan.
v Sentrat dibuang karena golongan III dan endapan
diperiksa.
|
|
Ø Endapan dicuci dengan air H2S.
Ø Ditambah ± 3 ml (NH4)2SX
2M.
Ø Panaskan dalam penangas air ± 60◦C selama 4 menit
sambil diaduk.
Ø Sentrifuge.
|
Ø Tidak
terjadi reaksi.
Ø Endapan
tetap berwarna orange dan warna larutan pun tetap yaitu warna orange.
Ø Larutan
menjadi sedikit keruh, endapan tetap yaitu berwarna orange.
Ø Larutan
menjadi tidak berwarna, dan endapan tetap warna orange.
|
v Pisahkan sentrat dengan endapan.
v Endapan dibuang karena golongan II A dan sentrat
diperiksa.
|
|
Ø Sentrat diteteskan HCl 6N sampai larutan menjadi
asam (periksa dengan kertas lakmus).
|
Ø Warna
larutan tetap yaitu tidak berwarna dan larutan menjadi asam karena memerahkan
kertas lakmus biru dan tidak terbentuk endapan.
v Sampel negatif As (As-) karena
tidak terbentuk endapan.
|
v Karena tidak terbentuk endapan maka pemeriksaan
atau identifikasi sampel langsung ke sentrat.
|
|
v Sentrat dibagi 2, karena untuk pemeriksaan
terhadap Sn dan Sb.
|
|
v Sentrat 1
Ø Tambahkan beberapa butir Fe.
Ø Diuapkan sampai hampir kering.
Ø Larutkan dalam 1 ml air.
Ø Sentrifuge.
Ø Tiga tetes larutan dibubuhi setetes larutan HgCl2
5%.
|
Ø Warna
larutan menjadi hitam transparan dan Fe tidak larut.
Ø Saat
dipanaskan terdapat gelembung, larutan menjadi habis, dinding tabung menjadi
warna kuning, dan endapan pun mengerak warna hitam.
Ø Larutan
menjadi warna kuning, dan masih terdapat endapan hitam.
Ø Larutan
berwarna kuning transparan dan masih ada endapan hitam.
Ø Larutan
berwarna kuning transparan, dan tidak terbentuk endapan putih atau abu-abu.
v Sampel negatif Sn (Sn-) karena
tidak terbentuk endapan putih atau abu-abu.
|
v Sentrat 2
v Dibagi menjadi 2 tabung.
|
|
v Tabung 1
Ø 2 tetes larutan dibubuhi sedikit KNO2
padat, aduk dengan batang pengaduk.
v Lihat, apabila sudah tidak timbul gas lagi
tambahkan 2 tetes reagen Rhodamin B.
Ø Ditambah 2 tetes reagen Rhodamin B.
|
Ø Tidak
terjadi reaksi.
Ø Larutan
menjadi berwarna ungu.
v Sampel positif Sb (Sb+) karena
warna larutan berubah menjadi ungu.
|
v Tabung 2
Ø Sisa larutan diuapkan sampai tinggal sedikit.
Ø Teteskan 10 tetes NaOAc 6M.
Ø Didihkan.
Ø Masukkan kedalam larutan yang panas sebutir Na2S2O3
pada bagian bawah.
|
Ø Larutan
menjadi sedikit.
Ø Tidak
terjadi reaksi.
Ø Tidak
terjadi reaksi.
Ø Larutan
menjadi berwarna kuning keruh.
v Sampel negatif Sb (Sb-) karena
larutan tidak berubah menjadi warna merah.
Kami
mengambil kesimpilan bahwa sampel yang kami identifikasi adalah positif Sb
(Sb+).
|
G. Reaksi
– Reaksi :
1. As2S3
+ 12 NaOH → 2 Na3AsO3 + H2O + 3 Na2S
Na3AsO3
+ H2O2 → Na3AsO4 + H2O
2. Na3AsO4
+ HCl → H3AsO4 + 3 NaCl
3. SnCl
+ Fe → SnCl2 + FeCl2
Sn2+ + 2
HgCl2 → Sn4+ + Hg2Cl2 + 2 Cl-
H. Pembahasan
-
Pada saat mengidentifikasi kation
golongan II B yaitu As, Sn dan Sb pada sampel yang kami identifikasi tidak
mengandung semua kation golongan II B tersebut. Pada sampel yang kami identifikasi
hanya positif Sb, sedangkan kation lainnya yaitu As dan Sn hasilnya negatif.
Ini bisa terjadi karena mungkin pada saat melakukan identifikasi kami kurang
teliti sehingga pada saat penambahan pereaksi ada yang kekurangan dan ada juga
yang kelebihan. Atau ini juga terjadi mungkin karena pada sampel yang kita
identifikasi tidak mengandung kation tersebut yaitu As dan Sn dan hanya
mengandung Sb.
-
Sb positif adalah hasil dari kesepakatan
kelompok karena pada saat mengidentifikasi ion Sb kami mendapatkan dua hasil
yang berbeda yaitu pada tabung satu positif Sb dan pada tabung dua negatif Sb,
dan kami mengambil kesimpulan yaitu pada sampel yang kami identifikasi adalah
positif Sb karena pada saat mengidentifikasi ion Sb di tabung dua kami kurang
yakin pada saat menambahkan NaOAc 6M karena kami kurang yakin dengan hasil pH
yang didapatkan karena seharusnya pH yang didapat yaitu 6 – 7, mungkin pada
larutan kami pH-nya kurang atau lebih dari 6 – 7.
I. Kesimpulan
Kesimpulan
yang dapat kami ambil pada percobaan yang kami kerjakan dalam identifikasi
kation golongan II B yaitu sampel yang kami identifikasi hanya mengandung atau
positif Sb dan tidak mengandung atau negatif As dan Sn.
DAFTAR
PUSTAKA :
·
SVEHLA G.1985.Vogel Bagian Satu Buku Teks Analisis Anorganik Kulitatif Makro dan Semi
mikro edisi ke lima.Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka.